Seharusnya, edukasi diperuntukan untuk menyiapkan diri di masa depan. Secara tradisional, itu berarti belajar untuk memahami sebuah fakta dan mendalami keterampilan, contohnya ketika para petualang datang ke tanah Amerika atau bagaimana cara untuk menghitung sebuah jawaban menggunakan pembagi.

Dewasa ini, kurikulum yang diajarkan kepada anak berubah untuk lebih fokus terhadap dunia yang lebih luas dan juga digital, mengajarkan anak untuk ikut serta dalam pembelajaran seperti sejarah kultural, keterampilan dasar komputer, dan menulis kode.

Namun, hambatan yang dihadapi oleh anak-anak pun akan sangat berbeda dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Apa yang dipelajari oleh kebanyakan anak sekarang kemungkinan besar tidak berkesinambungan dengan apa yang akan mereka pelajari atau dapatkan setelah mereka lulus dari kuliah.

Beberapa abad dari sekarang, apa yang sudah orang dewasa tahu atau pelajari tidak akan menjadi sesuatu yang mutlak dan benar. Komputer yang akan ada di masa depan mungkin tidak akan berbentuk digital. Kode dari perangkat lunak itu sendiri akan secara perlahan menghilang, atau tidak akan bersangkutan satu sama lain.

Beberapa pekerjaan yang dianggap lebih unggul pun lama kelamaan akan dikendalikan secara digital, otomatis, atau malah nilai dari pekerjaan tersebut hilang. Manusia perlu untuk berpikir ulang cara yang tepat untuk menyiapkan anak-anak untuk dunia atau masa depan yang akan datang.

1. Pahami sistem yang digunakan

Dulu, mata pelajaran yang sering diajarkan kepada orang dewasa berbentuk statistik. Jawaban dari 2+2 selalu empat. Interpretasi dari pelajaran ini mungkin akan berbeda dari waktu ke waktu, namun orang dewasa selalu diajarkan bahwa dunia yang manusia tinggali berbasis pada fakta-fakta yang ada.

Seperti apa yang sudah dikatakan oleh seorang Theorist, Sam Arbesman, fakta-fakta yang ada mempunyai “kehidupan”.

Ketika sebuah pengetahuan berkembang, kehidupan itu pun mulai mengalami penyusutan.

Sebagai contoh, ketika kita belajar mengenai program komputer, kita selalu menggunakan dalam bahasa BASIC sebagai bahasa yang sering dipakai. Saat ini, Python adalah bahasa yang dipakai secara universal mengenai program komputer. Mungkin, hal ini juga akan berubah dalam satu dekade yang akan datang.

Komputer pun juga akan berbeda, bukan berdasarkan 1 dan 0 sebagai kode digital, namun berdasarkan hukum kuantum dan kepintaran manusia. Manusia akan lebih banyak mengandalkan DNA dalam diri sendiri untuk menyimpan informasi penting dibandingkan menyimpannya di sebuah silicon (perangkat).

Tidak ada cara yang mudah untuk mengajarkan bagaimana hal-hal ini bisa terjadi. Karena, belum ada yang bisa menjelaskan hal-hal ini.

Anak-anak pada masa kini butuh untuk belajar mengenai basis dari sistem teknologi yang akan dipakai pada masa depan seperti mekanikal kuantum, gen, dan logika dari kode, dibandingkan dengan apa yang ada dan dipakai sekarang. Ekonom selalu menemukan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang sering ditemui akan berbubah menjadi pekerjaan yang dikendalikan oleh komputer.

2. Mengaplikasikan rasa empati dan kemampuan merancang

Walaupun mesin-mesin banyak mengambil pekerjaan yang dinilai sulit, seperti analisis medis dan peneliti hukum, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dilakukan atau dikendalikan oleh mesin. Sebuah perangkat komputer tidak akan menyerang di sebuah permainan, patah hati, atau melihat seorang anak dilahirkan.

Berdasarkan hal tersebut, perangkat komputer ini mempunyai kemungkinan kecil atau tidak sama sekali, untuk belajar mengerti manusia. Ketiadaan rasa empati ini akan membuat sulit bagi mesin-mesin untuk merancang produk dan memproses produk tersebut sebagai bahan pemuas atau bahan yang akan berguna bagi manusia. Kemampuan untuk merancang pun menjadi permintaan yang paling diminati untuk produksi dasar dan proses analitis akan banyak dikendalikan oleh komputer.

anak belajar programming

Kita sudah melihat proses ini terjadi dengan adanya Internet. Pada zamannya, hal ini termasuk dalam ranah yang sangat teknis. Kamu harus menjadi seorang teknisi yang sangat handal untuk membuat sebuah situs bekerja. Namun sekarang, semua orang dengan kemampuan yang biasa-biasa saja dapat membangun sebuah situs. Terlebih, nilai tinggi dari membangun sebuah situs web telah berganti menjadi front-end task, seperti merancang pengalaman dari pengguna yang masuk ke situs web tersebut.

Dengan meningkatnya Artificial Intelligence (Kepintaran Buatan) dan juga realitas maya, pengalaman kita dengan teknologi akan jauh lebih terasa keikut-sertaannya. Dikarenakan hal tersebut, rancangan yang bagus akan makin dibutuhkan. Sebagai contoh, analis untuk percakapan bekerja dengan perancang untuk membuat conversational intelligence (kecerdasan percakapan) untuk suara antarmuka. Sangat jelas jika realitas maya akan lebih intensif dalam memilih rancangan dibandingkan video yang pernah ada.

3. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan ide yang kompleks

Poin-poin yang ditekankan untuk pendidikan adalah Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan keahlian dalam area atau pendidikan tersebut sangat penting bagi para siswa saat ini untuk memahami dunia sekitar mereka. Namun, keahlian untuk mengutarakan pendapat menjadi keahlian yang sangat berharga.

Ambil contoh Amazon, salah satu organisasi paling inovatif dan mahir secara teknis. Namun, kunci kesuksesan dari Amazon adalah dalam budaya menulisnya. Perusahaan ini sangat fanatik mengenai kemampuan dalam berkomunikasi, dalam artian mengembangkan kemampuan menulis sangatlah penting untuk membangun karir.

Pekerjaan di masa depan tidak akan terlalu tergantung pada mengetahui fakta atau angka-angka seperti pada manusia berkolaborasi dengan manusia lain untuk merancang pekerjaan untuk mesin.

Cara Amazon menjalankan bisnis tersebut adalah bukti yang nyata dalam kasus ini. Mungkin memang Amazon mempekerjakan teknisi-teknisi handal. Namun, untuk membuat sebuah karya yang dapat dinilai lebih dari yang lain, para teknisi handal ini haruslah bekerja dalam kesinambungan bersama para perancang, pemasar, dan juga dengan para pengemban bisnis.

Untuk berkolaborasi dalam segala aktivitas dan juga membuat semua orang terfokus dalam memberikan pengalaman yang berkesan kepada penggunanya, komunikasi yang jelas dan dalam sangatlah penting. Walaupun belajar mengenai matematika dan sains juga penting, namun sastra, sejarah, dan filosofi juga tak kalah penting.

4. Bekerja dan berkolaborasi dalam sebuah team

anak anak berkolaborasi

Secara tradisional, Pekerjaan Rumah (PR) selalu dinilai berdasarkan capaian dari diri sendiri. Tumbuh besar, kamu diharuskan untuk belajar di rumah, selalu siap sedia, dan mengerjakan ujian tanpa bantuan dalam bentuk apapun. Jika kamu melihat pekerjaan orang lain, hal itu dapat dikategorikan sebagai mencontek dan dipastikan kamu akan berada dalam masalah. Kamu diajarkan bahwa apa yang kamu dapatkan dan segala pencapaian yang kamu terima adalah buah dari hasil kerja kamu sendiri.

Namun, etika bekerja telah berubah termasuk dalam lingkungan yang sangat teknis. Di tahun 1920, kebanyakan dari esai dan karya ilmiah dibuat oleh satu penulis. Namun di tahun 1950, hal itu telah berubah ketika penulis tambahan dan editor menjadi sebuah norma yang baru.

Saat ini, rata-rata dari esai dan karya ilmiah telah berubah dimana penulis dalam satu esai menjadi sebanyak empat kali lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Hal ini juga membuat karya-karya tersebut jauh lebih interdisipliner dan kolaboratif.

Seperti yang dilakukan oleh Brian Dean, dalam blognya, Backlinko.com, kini dia berkolaborasi dengan tim untuk bisa menulis lebih cepat, dan lebih berkualitas.

Tetapi, pekerjaan rumit dan lebih kompleks, dikerjakan dalam sebuah tim. Hal ini akan terus menerus bertambah dan diperhatikan karena banyak pekerjaan yang dikendalikan oleh komputer. Pekerjaan di masa depan tidak akan bergantung banyak pada fakta di kolaborasi antar manusia untuk merancang pekerjaan untuk mesin.

Kolaborasi akan menjadi sebuah kelebihan yang kompetitif.

Karena hal itulah, manusia perlu paham bukan hanya bagaimana seorang anak mengerjakan suatu pekerjaan atau dalam hal pencapaian akademiknya. Tetapi juga bagaimana mereka bermain, menyelesaikan suatu konflik atau masalah, dan membuat orang lain merasa lebih kuat dan didukung. Ketika seorang anak dapat mengerti dan belajar lewat teknologi, pelajaran penting yang lainnya mungkin akan dihentikan sementara.

Untuk semua itu, manusia harus jujur dan tidak membohongi diri sendiri bahwa memang faktanya, anak-anak akan merasakan pendidikan yang berbeda dan tidak akan sama dengan yang sudah pernah dialami oleh orang dewasa. Kehidupan yang dihadapi oleh anak-anak tersebut akan lebih berbeda dan kompleks. Masa depan tersebut akan lebih sulit untuk diarahkan daripada apa yang orang dewasa bayangkan.

Penulis: Greg Satell
Translator: Irwansyah Hertanto
Editor: Rendy Andriyanto

Author

Bridging informations that matters

Write A Comment