Bagi seorang muslim, mengetahui semua perkara yang membatalkan wudhu merupakan pengetahuan yang penting. Pengetahuan yang akan menjadi dasar bagi diri kita untuk mengetahui kapan dan apa sebab seseorang harus mensucikan diri lagi dari hadats kecil.

Lebih daripada itu, wudhu merupakan salah satu syarat sah sholat dan cara untuk menghilangkan najis di diri kita. Artinya, dari setiap orang muslim yang akan menunaikan sholat, hendaklah untuk berwudhu terlebih dahulu.

Telah terkumpullah 7 perkara yang diambil dari beberapa sumber terpercaya mengenai perkara atau kejadian yang membatalkan wudhu. Berikut penjelasannya.

1. Adanya sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur

Pada tata cara wudhu, telah dijelaskan arti dan tujuan dari wudhu menurut syara’ adalah membersihkan anggota wudhu untuk menghilangkan hadats kecil.

Tentu, bilamana ada bagian salah satu dari dua kemaluan ini yang mengeluarkan kotoran (baik berupa kentut, air seni, darah ataupun lainnya) akan dianggap mendapatkan hadats kecil lagi.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairoh dan diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لايقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ فقال رجل من أهل حضر موت ماالحدث ياأباهريرة؟ قال: فساء أو ضراط

Artinya: “Abu Hurairoh bercerita bahwa Rasulullah saw bersabda “Allah tidak menerima sholat kamu sekalian apabila (kamu) dalam keadaan hadats hingga kamu berwudhu” kemudian seorang Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairoh “apakah hadats itu?” Abu Hurairoh menjawab “kentut (yang tidak bersuara) dan kentut yang bersuara”,”.

2. Bersentuhan dengan istri dan lawan jenis tanpa penghalang

Proses persentuhan (kulit) antara laki-laki dengan perempuan didasari dengan telah tumbuh besar dan bukan mahramnya mereka.

Sehingga jelas bahwa setiap orang yang sudah akil baligh bersentuhan kulit dengan lawan jenis (dan bukan mahram), batal wudhunya, dan diwajibkan mengambil wudhu kembali bila ingin menunaikan sholat.

Lalu, bagaimana wudhu seorang suami istri yang bersentuhan kulit?

Dikutip dibalikmeja dari NU Online, wudhu pasangan suami istri tersebut menjadi batal dikarenakan pasangan suami istri bukanlah mahram.

Dijelaskan bahwa, “Seorang perempuan disebut sebagai mahramnya seorang laki-laki adalah apabila perempuan tersebut tidak diperbolehkan dinikahi oleh sang laki-laki. Sebaliknya seorang perempuan disebut bukan mahramnya seorang laki-laki bila ia boleh dinikahi oleh laki-laki tersebut. Sepasang suami istri adalah jelas dua orang berbeda jenis kelamin yang boleh menikah. Karena keduanya diperbolehkan menikah maka sang istri bukanlah mahram bagi sang suami. Karena bukan mahram maka saat kedua bersentuhan kulit batallah wudhu mereka,”.

Tapi, jika kita memandang lebih luas lagi, kalimat tersebut merupakan sebuah “pandangan” yang ditafsikan dari kalimat لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ (menyentuh perempuan) dalam Surat Al-Maidah ayat 6.

Dimana, dalam pembahasan “pandangan/tafsir”, kita masih bisa membaca lagi berbagai pendapat ulama dari berbagai mahzab.

Dikutip dibalikmeja dari Kesan, setidaknya ada dua “pandangan” atau pendapat ulama dari mahzab yang bisa telah disimpulkan dari berbagai sumber, yaitu:

  • Pendapat ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, seorang suami atau istri yang memiliki wudhu sebelum tidur, lalu mereka bersentuhan ketika tidur, maka sentuhan tersebut tidak dianggap membatalkan wudhu mereka, dengan syarat bahwa sentuhan tersebut bukanlah sentuhan yang didasari dengan syahwat.
  • Menurut mazhab Syafii, sentuhan tersebut dapat membatalkan wudhu meski tidak didasari dengan syahwat.

Kita bisa mengambil salah satu dari 2 kesimpulan mahzab di atas.

Jika dirasa masih kurang jelas, kita bisa simpulkan saja bahwa suami istri wudhunya jadi batal karena bersentuhan meski tidak didasari dengan syahwat.

Kesimpulan batal ini didasari oleh poin nomor 6 pada konten ini. Baca lebih lanjut untuk mengetahuinya.

3. Tertidur

Tidur dalam posisi seperti apapun, dianggap dapat membatalkan wudhu, karena badan kita berada di luar kendali pikiran tentang segala sesuatu yang terjadi.

Segala sesuatu yang terjadi tersebut dapat berupa kentut, keluarnya darah, keluarnya nanah atau keluarnya air seni.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan diceritakan oleh sahabat Ali berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وكاء السه العينان, فمن نام فاليتوضأ

Artinya: “Rasulullah saw berkata “pengendali dubur (tempat keluarnya kotoran dari jalan belakang) adalah kedua mata, oleh karena itu barang siapa tidur hendaklah ia berwudhu”,”.

4. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan

Menyentuh kemaluan milik sendiri (apalagi) milik orang lain dengan menggunakan telapak tangan merupakan perkara yang membatalkan wudhu sepenuhnya, hal ini tercatat dalam HR. Ahmad, Rasulullah bersabda,

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

yang artinya, “Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah,”.

Termasuk atau tidak terbatas pada kemaluan milik orang yang masih hidup ataupun sudah mati, milik sendiri atau orang lain, anak kecil atau besar, menyentuhnya secara sengaja atau tidak sengaja, atau kelamin yang disentuh telah terputus.

Perkara ini bisa semakin diperjelas dengan HR. An Nasa’i dan Tirmidzi, Rasulullah bersabda,

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلَا يُصَلِّي حَتَّى يَتَوَضَّأَ

yang artinya, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka janganlah ia mengerjakan sholat hingga ia wudhu terlebih dahulu,”.

5. Keluarnya darah dan nanah dari qubul dan dubur

Selain keluarnya kotoran dari qubul dan dubur, keluarnya darah dan nanah dari 2 jalan keluarnya kotoran ini juga termasuk ke dalam perkara yang membatalkan wudhu.

Meski ada perbincangan di luar yang mendiskusikan bahwa darah dari kulit manapun selama menetes ke dalam bagian tubuh yang harus disucikan dengan wudhu bisa membatalkannya, ulama Syafiiyah tidak berpendapat demikian.

Begitu pula dengan pendapat dari Sheikh Ahmad Kutty, Dosen Senior dan Cendekiawan Islam di Institut Islam Toronto, Ontario, Kanada, yang telah menjelaskan pendarahan selain di qubul dan dubur tidak membatalkan wudhu.

Karena, ada banyak bukti kuat dari sumber utama Islam dan para Salaf (para pendahulu yang saleh) yang menjelaskan sudah menjadi rahasia umum para sahabat biasa sholat saat mereka mengeluarkan darah dari luka-luka mereka.

6. Ragu-ragu dengan batalnya wudhu

Ragu-ragu merupakan perkara yang kerap membuat kita semua sebagai orang Islam merasakan dilema untuk mengambil ulang air wudhu atau tidak.

Namun, NU Online sudah menjelaskan dengan gamblang untuk kita semua, bahwa:

  • Orang yang mengalami keraguan setelah dirinya berwudhu, maka dia tidak wajib berwudhu lagi. Karena, yang dia yakini adalah sudah berwudlu, sedangkan batalnya masih diragukan.
  • Orang yang yakin bahwa dia telah batal wudhunya, tetapi dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudhu kembali ataukah belum, maka di wajib berwudhu lagi. Karena, yang dia yakini adalah sudah batal wudhunya.

7. Hilang akal sebab gila, mabuk dan lainnya

Hilang akal, seperti gila, mabuk, pingsan dan lain sebagainya sudah disepakati oleh para ulama bahwa benar-benar dapat membatalkan wudhunya seseorang.

Pada saat hilangnya kesadaran akal seperti ini tubuh kita berada jauh di luar kendali pikiran kita jika hanya dibandingkan dengan tidur.

Itulah semua 7 dari perkara dan kejadian-kejadian yang dapat membatalkan wudhu-nya seseorang. Semoga konten ini dapat menjadi panduan yang sebenar-benarnya bagi kita semua.

Karena, menjaga wudhu merupakan sesuatu aktivitas yang sangat bermanfaat bagi kita sebagai seorang muslim. Selain sebagai syarat sah sholat, menjaga wudhu merupakan satu langkah untuk menjadi umat yang disebut Al-Ghurr-ul-Muhajjalun (yang bercahaya wajahnya).

Author

Media tempat dimana ide ditemukan, terbentuk, tercipta dan memicu percakapan yang saling bermanfaat.

Write A Comment