Share

Facebook (Meta) Menjadi Perusahaan Terburuk Tahun 2021

Facebook, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Meta, melalui survey yang dilakukan Yahoo! Finance telah dinobatkan menjadi perusahaan terburuk tahun ini.

Rendy Andriyanto
facebook

Facebook, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Meta, melalui survey yang dilakukan Yahoo! Finance telah dinobatkan menjadi perusahaan terburuk tahun ini.

Yahoo! Finance memang rutin membuat survey “Company of the Year” yang dilakukan pada bulan Desember setiap tahun untuk menunjukkan survey-survey perusahaan besar terkait dengan performa pasar dan pencapaiannya.

Menariknya, tahun ini Yahoo! juga meluncurkan program “perusahaan terburuk tahun ini” yang sebelumnya belum pernah ada. Hal ini berangkat dari keyakinan Festivus mereka yang harus yakin dapat belajar apapun meski dari sesuatu yang buruk.

Dalam survei terhadap 1.541 orang, ada banyak perusahaan yang disebutkan memiliki performa buruk. Tapi, Facebook menduduki posisi tertinggi sebagai perusahaan terburuk dengan jumlah suara sekitar 8% dari semuanya. Di sisi lain, Microsoft (MSFT) membawa pulang mahkota, menembus kapitalisasi pasar US$ 2 triliun dan lonjakan 53% harga sahamnya pada 16 Desember.

Facebook/Meta Dinilai Lebih Mementingkan Keuntungan Perusahaan

Ditengah perubahan citra bisnisnya dari Facebook menjadi Meta agar lebih sesuai dengan tujuan membangun “Metaverse”, dunia yang sepenuhnya digital, Facebook dinilai lebih mementingkan keuntungan daripada keamanan pengguna.

Facebook telah lama terlibat dalam kekhawatiran publik atas privasi penggunanya. Facebook telah secara khusus berjuang dengan Apple atas perubahan di iOS dan iPadOS yang mempersulit perusahaan untuk melacak pengguna di aplikasi dan situs web lain.

Meskipun Mark Zuckerberg telah berdalih bahwa sulitnya akses pelacakan pengguna aplikasi Facebook di iOS dan iPadOS dapat berdampak buruk pada lesunya pertumbuhan keuntungan bisnis UMKM, CEO Apple, Tim Cook dengan tegas menyebutkan bahwa model bisnis Facebook yang dapat melacak pengguna hanya akan mengarah pada sistem polarisasi dan kekerasan.

Ketidakmampuan Facebook Mencegah Hoax

Facebook merupakan platform kreatif yang membiarkan siapapun dapat membagikan pendapatnya ke dalam platform tanpa adanya filter dan kemampuan dari Facebook untuk menceah hoax.

Algoritma mereka hanya mengedepankan engagement yang justru hanya akan berujung pada kerusuhan. Inilah yang menjadi dasar bagaimana Facebook menjadi platform tertinggi dalam hal perkembangbiakan hoax di dunia.

Bahkan, cap perusak demokrasi juga sudah menjadi citra yang menempel dalam diri platform Facebook, salah satunya karena skandalnya dengan Cambridge Analytica yang berhasil memelintir informasi dengan dukungan big data.

Instagram Berdampak Buruk pada Remaja dan Anak-anak

Satu hal lagi yang menjadi alasan kenapa Facebook/Meta menjadi perusahaan terburuk adalah karena salah satu anak perusahaannya, Instagram, yang juga platform sosial media memiliki dampak buruk bagi masa remaja dan anak-anak.

Kontroversi tersebut dibuka oleh mantan karyawan Facebook sendiri, Frances Haugen tentang efeknya pada kesehatan mental, setelah dokumen internal mengungkapkan perusahaan tahu Instagram membuat gadis remaja merasa lebih buruk tentang citra tubuh masalah tetapi tidak mengatasi masalah.

Frances Haugen
Foto: Yahoo! Finance

Uniknya, dari semua kontroversi yang ada, masih ada sekitar 30% responden yang percaya bahwa Facebook/Meta dapat memperbaiki masalah itu semua jika mereka bersedia untuk meminta maaf kepada publik dan meningkatkan pengalaman penggunanya.

“Seorang responden mengatakan, Facebook dapat menebus diri dengan mengakui dan meminta maaf, serta menyumbangkan sebagian dari keuntungan besarnya untuk membantu sebuah yayasan. Beberapa orang melihat perubahan citra Meta sebagai upaya sinis untuk mengubah percakapan, mengikuti saran Don Draper dalam skandal. Sejumlah orang lainnya senang dengan potensi arah baru yakni sesuatu yang berbeda dari model media sosial lainnya. Sejumlah besar tanggapan terfokus pada eksekutif, pendiri dan CEO Mark Zuckerberg,”. tulis Yahoo! Finance dalam hasil surveinya dikutip dari Liputan6.

FacebookInstagramMeta
Rendy Andriyanto