Industri game dan esports memanglah sedang naik daun, tercatat ukuran pasar esports global bernilai USD 1,1 miliar pada 2019 dan diperkirakan akan meningkat pada tingkat compound annual growth rate (pertumbuhan tahunan) sebesar 24,4% dari tahun 2020 hingga 2027.

Santernya media memberitakan bahwa menjadi pro player esports itu memiliki gaji besar yang fantastis, dan bombastis. Ditambah dengan bumbu-bumbu bahwa pro player itu hidupnya nyaman, “main game tiap hari tapi dapet uang”, sampai muncul quotes super ambigu jika diterapkan ke industri ini: “ubahlah hobi menjadi karirmu”.

Kok ya rasanya kaya nyaman banget sih jadi pro player. Mengalahkan kenyaman menjadi CPNS di Indonesia.

Padahal, menjadi pro player tim esports itu nggak melulu tentang gaji besar dan hidup nyaman. Ada banyak pengorbanan yang harus direlakan dan dilalui.

Sebut saja Dicky “RRQ” Tuturu yang akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak memperkuat squad RRQ sejak MPL ID Season 6. Dalam sesi podcastnya bersama Uus Kamukita, Tuturu menceritakan berbagai alasan kenapa sekarang dia harus rehat sejenak dari hingar-bingar kehidupan seorang pro player.

Hilangnya Keseruan Bermain Game

Menjadi pro player berbeda total (180 derajat) dengan casual gamer. Dicky “RRQ” Tuturu menuturkan bahwa selama menjadi pro player, rasa seru dan senangnya pengalaman bermain game, lama kelamaan menurun –bahkan hilang.

Bukan karena tanpa sebab, hal ini bisa terjadi karena selama bermain game, bukanlah kesenangan yang Tuturu cari, melainkan strategi perlawanan, pertahanan, gameplay, build, dan berbagai macam hal lain yang mendongkrak kemenangan squad RRQ ketika berdebut di ajang kompetitif.

Hasil akhir dari permainan training panjang tanpa henti ini bisa dibilang 70% stres (karena belum menemukan meta terbaik), dan 30% senang (karena sudah menemukan meta terbaik).

Berbeda jika dibanginkan dengan seorang casual gamer, perbandingan hasil di atas bisa dibilang nggak berlaku. Perbandingan hasil yang berlaku adalah 80% senang (bagaimanapun hasil gameplay dan metanya), dan 20% stres (karena kalah terus).

24 Jam Main Game Tanpa Henti

Pernah melihat cuplikan sesi interview caster PMPL ID 2020 bersama BTR Alice dan BTR Luxxy setelah mendapatkan WWCD? Ketika BTR Alice menjawab pertanyaan tentang “apa rahasia dia bisa jago main PUBGM” adalah “Yaa…… Main terus aja”.

Sering melihat channel-channel streamer di Youtube yang memberikan tutorial tentang bagaimana cara memenangkan suatu pertandingan? Entah apapun game-nya, jika dicari benang merahnya, maka kamu akan menemukan satu jawaban tanpa bantahan ini:

“Coba main terus setiap hari tanpa henti….” (tambahan saya: minimal 10 jam setiap hari).

Kenapa bisa begitu? Bukankah itu tuntutan sebuah pekerjaan?

Tentu nggak! pekerjaan menjadi pro player berbeda dengan yang lainnya. Seorang teknisi motor nggak akan mungkin lupa cara membersihkan busi motor meski sudah nggak pernah megang busi motor lagi selama 2 bulan. Sedangkan pro player, 2 bulan nggak main, skillnya sudah pasti menurun.

Menuntut Loyalitas dari Pro Player

Mungkin ini adalah poin yang paling banyak belum diketahui oleh casual gamer yg bermimpi menjadi pro player.

Ngegame doang tiap hari, tapi dibayar mahal.

Loh heh loh heh, pro player itu nggak sekedar ngegame, mereka itu berada di bawah managemen tim esports yang punya syarat ketentuan serta kontrak kerja yang harus (((saklek))) diikuti.

Jadi, apapun keputusan tim managemen adalah mutlak harus diikuti oleh semua pro player —selama masih diatur di surat kontrak.

Sebut saja Ryan Supernayr, pro player dari skena PUBG PC yang sekarang ini sudah sepenuhnya menjadi streamer. Doi lepas dari label pro player bukan tanpa sebab, loh.

Dalam satu cuplikan video yang diunggah dalam kanal Youtube-nya, Supernayr menceritakan bagaimana dia harus tetap mengikuti kompetisi yang digelar di Hongkong secara profesional meskipun dia tahu bahwa ayahnya sedang terserang penyakit jantung di rumah sakit.

Saya salute untuk Supernayr yang tetap profesional, dan sabar menghadapi cobaan meski kamu masih memiliki perasaan yang mengganjal seperti yang kamu ceritakan di Youtube-mu. Untuk ayah Supernayr, Alm. Novrial Anas semoga tenang di sana dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Gaji Masih Lebih Besar Content Creator atau Streamer daripada Pro Player

Ini sih yang menurut saya paling bikin keblinger: gaji pro player itu besar banget, biaya transfernya bisa sampe ratusan juta.

Tunggu dulu, brooo…..

Ini Indonesia, gaji pro player itu sama aja kaya karyawan kantor lain. Minim ya UMR + 1 juta.

Yang bikin uang pro player terlihat banyak itu karena beberapa poin ini:

  • Tim esportsnya punya banyak sponsor
  • Berkali-kali menang turnamen
  • Endors di Instagram

Nah, yang paling banyak diekspos sama media itu adalah uang pro player hasil dari memenangkan turnamen. Kalau nggak menang? Yooo wes, sing penting melu turnamen toh?

Sedangkan seorang streamer, uang Youtube banyak, bisa pilih sendiri endorsement + brand ambassador.

Nggak ada Jenjang Karir Vertikal

Senior Pro Player Mage Mobile Legends, Lead Sniper PUBGM, Senior Impostor. Yakin ada title seperti ini di dunia esports?

Ada sihhh jenjang karirnya, jadinya couch seperti Entruv, atau jadi manager tim esports, atau bikin tim esports sendiri. Itupun kalau kamu punya softkill.

###

Memang benar menjadi pro player itu menyenangkan. Tapi, jauh lebih menyenangkan menjadi pro player yang juga mengasah softskill, dan otak bisnis. Nggak melulu tentang main game, gaji besar, hidup nyaman.

Author

Tech Savvy. Voracious reader. Digital Marketer.

Write A Comment