Meski jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angka 196 juta jiwa, masih banyak pebisnis yang bingung membedakan antara digital marketing offline marketing.

Faktanya, dua jalur marketing ini sebenarnya sangat bagus untuk diterapkan bersama karena bisa saling mendukung.

Marketing mulut ke mulut contohnya, semua orang setuju ini merupakan teknik offline marketing yang sangat menjanjikan. Sedangkan di digital marketing ada SEO di Google –platform yang paling sering dikunjungi orang untuk mencari informasi produk dan jasa.

Jadi, apa definisi dan perbedaan digital dan offline marketing?

7 Perbedaan Digital dan Offline Marketing

Mulai dari biaya, jangkauan hingga pelacakannya, ini dia 7 hal yang membedakan antara digital marketing dengan offline marketing.

1. Media/Platform yang Digunakan

Digital marketing digunakan untuk menjangkau calon konsumen melalui internet, dan internet diakses oleh mereka melalui berbagai platform/aplikasi yang bisa dipasang di smartphone dan laptop.

Beberapa platform yang bisa dijadikan untuk jalan melakukan digital marketing antara lain website, blog, Google, Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, Youtube, email, dan yang lainnya.

Sedangkan offline marketing, digunakan untuk menjangkau calon konsumen tanpa melalui internet, artinya media yang digunakan berjenis media 1 arah yang mana calon konsumen tidak bisa berinteraksi secara langsung.

Media offline marketing antara lain koran, TV, brosur, poster, biilboard, radio, dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Sistem dan Cara Melihat Hasil Iklan

Karena digital marketing sangat bergantung dengan teknologi dan internet, maka sudah jelas bahwa ini akan lebih mudah dilihat hasil dari iklan yang dijalankannya.

Ada Google Analytics yang bisa dipakai untuk melihat traffic website, Instagram Insight, Facebook Analytics, Twitter Analytics dan masih banyak lagi tools digital marketing untuk melacak hasil dari upaya marketing.

google analytics

Tangkapan layar di atas merupakan tampilan Google Analytics milik demo Google yang menunjukkan bagaimana kita bisa melihat berapa transaksi yang sudah dilakukan selama kita menjalankan iklan.

Bagaimana dengan offline marketing? Tentu lebih sulit untuk melihat hasil iklannya karena kita tidak bisa melihat seberapa banyak orang yang benar-benar membaca iklan, tertarik dan menjadi pembeli. Kecuali kamu sedang berhadapan langsung dengan calon konsumenmu.

Namun, satu poin ini tidak berarti offline marketing lebih buruk daripada digital marketing (akan dijelaskan pada poin-poin berikutnya).

3. Kontrol Biaya

Saya memulai digital marketing karena biaya dari setiap iklan yang dijankan bisa dikontrol setiap hari agar tidak melebihi budget yang dimiliki perusahaan.

Facebook Ads, misalnya, saat kita mulai beriklan dengannya, akan ada kolom pengaturan yang berfungsi untuk mengatur berapa batas maksimal budget marketing setiap hari (dengan angka minimal Rp30.000,-).

daily budget di facebook

Sedangkan offline marketing, biaya iklannya sudah fix di awal dan tidak bisa dikontrol setiap hari. Beriklan di TV, misalnya, kontrol biaya hanya ada saat kita melakukan negosiasi. Setelah iklan berjalan, entah itu efektif atau tidak, kita tidak bisa mengurangi biaya iklannya.

Begitu pula ketika kita ingin beriklan melalui poster, kontrol biaya hanya terjadi ketika kita memilih bahan posternya, semakin bagus bahannya, semakin mahal juga biaya iklannya.

4. Besarnya Persaingan

Digital marketing menjangkau users di internet yang sangat luas, bisa terkoneksi dengan mudah meski berbeda kota, provinsi, bahkan negara.

Oleh sebab itulah, persaingan digital marketing jauh lebih berat, yang memaksa kita untuk lebih kreatif dan punya testimoni yang bagus agar users yang baru melihat akun kita di internet akan mudah percaya dengan peluang usaha yang baru akan kita mulai.

Sedangkan offline marketing hanya menjangkau users yang berada di sekitar kita, membuatnya menjadi marketing yang persaingannya lebih rendah dibandingkan dengan digital marketing.

Uniknya, kecilnya persaingan offline marketing justru punya kelebihan juga, dimana conversion rate dari calon konsumen menjadi konsumen loyal lebih besar daripada digital.

Conversion rate-nya lebih besar karena kita lebih mudah menyakinkan calon konsumen tanpa memberikan opsi/waktu kepada mereka untuk melihat kompetitor, membandingkan harga, membandingkan review dan pertimbangan-pertimbangan lain yang akhirnya kadang membuat mereka mundur.

5. Penyesuaian Target Market

Berbicara tentang cara menyesuaikan target market ketika beriklan, digital marketing dan offline marketing sepertinya punya langkah yang sama.

Yang membedakan antara keduanya adalah seberapa akurat penyesuaian tersebut terjadi.

Katakanlah kita akan beriklan di digital melalui platform Google Ads (SEM), maka kita bisa mengatur keyword-nya agar orang yang mengklik iklannya hanya orang-orang yang benar-benar tertarik.

setting keyword di google ads

Karena inilah, iklan di digital dianggap lebih akurat.

Sedangkan offline marketing, penyesuaian target hanya bisa dilakukan dengan cara menyesuaikan tempat dan media dimana kita akan beriklan.

6. Periode Investasi dan Eksposur

Beberapa jenis digital marketing merupakan jenis yang sama halnya dengan investasi bisnis jangka panjang, karena benefitnya bisa dirasakan meski pemasangan iklan atau optimasinya dilakukan bertahun-tahun yang lalu.

Konten Instagram, blog dan yang lainnya masih bisa dilihat oleh orang lain meskipun itu ditulis puluhan tahun yang lalu, kecuali dihapus. Opsi semacam ini sangat menghemat biaya marketing.

Dibandingkan dengan digital, offline marketing punya jangka waktu yang lebih pendek.

Jika kita ingin iklan TV atau surat kabar Anda tetap berada di mata publik, artinya kita harus terus-menerus menerbitkannya kembali, menjadikan biayanya juga semakin tinggi.

7. Kecepatan dalam Membangun Kepercayaan

Dari 7 perbedaan, offline marketing punya kelebihan yang tidak dimiliki di dunia digital, yakni kemampuannya membangun kepercayaan yang sangat cepat.

Bisnis apa pun yang menggunakan media offline marketing berkualitas tinggi (seperti TV, webinar dan event) terlihat lebih kredibel di mata users.

Berbeda lagi dengan dunia digital, membangun kepercayaan sangat sulit karena users bisa melihat bisnis kita dengan sangat transparan.

review di gmb

Penilaian terjadi ketika users melihat desain konten sosial media yang kita buat, kualitas artikel blog yang diposting, review yang diterima di Google My Business (GMB), desain dan navigasi website yang dibangun serta masih banyak lagi yang lainnya.

Ketika users merasa apa yang kita miliki di dunia digital itu buruk bagi mereka, maka kepercayaan akan sulit terbangun.

Memasarkan Produk dengan Mengkombinasikan Digital dan Offline Marketing

Offline dan digital punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Namun, keduanya bisa sangat powerfull bila Anda bisa mengkombinasikannya dengan baik.

Memanfaatkan offline marketing untuk mendapatkan kepercayaan users dan menggunakan digital untuk menjangkau users yang menatap smartphone setiap hari.

Maka, tidak ada tembol yang benar-benar bisa membatasi kreativitas kita dalam memasarkan produk dan layanan.

Author

Digital Marketer. SEO Specialist. Content Marketer.

Write A Comment