Cashless telah menjadi satu kata yang paling diminati oleh banyak pemilik bisnis. Mereka bilang, kita tidak perlu membawa uang tunai lagi di dalam dompet kita. Bayar makanan, arisan online, melunasi tagihan, sampai urusan bayar toilet umum pun bisa dibayar dengan uang digital.

Punya dompet tebal bukan lagi sebuah kemewahan.

Beberapa tahun belakangan, dunia memang sedang memperbaiki dan memperbesar infrastruktur pembayaran digital. Ditambah lagi dengan adanya pandemi virus Covid-19, semua orang semakin membutuhkannya.

Lebih cepat dan tanpa kontak fisik, itulah jargonnya.

Hal tersebut terbukti dengan adanya pertumbuhan yang drastis dari penggunaan kartu kredit metode pembayaran tap-and-go. Di dunia sudah ada sekitar 79% orang menggunakannya. Sedangkan, di kawasan Asia Pasifik, angkanya sudah mendekati 92%.

Tapi, artikel ini bukan tentang bagaimana kita berterima kasih dengan adanya virus Covid-19 di dunia. Bagaimanapun, kita harus tetap melawan, dan memutus rantai penularannya. Artikel ini membahas tentang bagaimana wujud infrastruktur dan implementasi dari “the futures of digital payment”.

Langkah Serentak Perusahaan Digital dan Teknologi

Bersamaan dengan pergerakan maju penggunaan uang secara cashless tentu tidak membuat perusahaan digital dan teknologi tinggal diam dalam mengimbanginya.

Saat ini, tentu kamu memiliki kartu kredit, Gopay, OVO, DANA, dan Near-field-Communication (NFC) yang banyak menempati ruang penyimpanan smartphone. Semuanya digunakan karena 3 alasan: mudah digunakan, cukup aman, dan terus dikembangkan seiring berjalannya waktu.

Melihat perkembangannya yang sangat konstan dan sangat cepat, bukan tidak mungkin kamu akan menyambut gagasan aksesoris yang familiar dipakai oleh manusia menjadi perangkat nirkabel sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk melakukan pembayaran cashless-offline.

Masuk ke Era Payment Wearables

Satu masa depan yang mungkin akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia adalahnya masuknya era perangkat pembayaran yang terbuat dari aksesoris daily fashion.

Jika sebelumnya kamu pernah melihat ada smartwatch atau smart fitness band, selanjutnya kamu akan melihat payment wearables yang terbuat dari jam tangan analog, gantungan kunci, kalung, ataupun gelang.

Idenya cukup sederhana: Dengan melengkapi aksesoris sehari-hari dengan chip kecil yang fleksibel dilengkapi dengan kemampuan nirkabel -membuatnya menjadi peluang bisnis mengubah aksesoris fahion terjangkau menjadi perangkat pembayaran.

Konsep ini akan membuat kamu tidak perlu repot-repot mengeluarkan smartphone untuk membayar di kedai kopi. Konsep yang sangat menarik.

bayar pakai jam tangan

Bahkan, beberapa teknologi seperti ini sebenarnya sudah siap digunakan oleh publik secara luas, loh. Terbukti dengan adanya brand seperti TapStrap dan K Ring yang mampu menyematkan sebuah chip berkemampuan NFC di dalam aksesoris daily fashion tali jam dan cincin. Gambar di atas adalah salah satu contohnya.

Keamanan Melalui Tokenization

Jika memang benar payment wearables akan menjadi perangkat utama revolusi dalam melakukan pembayaran cashless, maka sesuatu yang menjadi perhatian selanjutnya adalah tentang keamanannya: Apakah perangkat ini aman dari penipu dan peretas dunia maya?

Jawaban paling memungkinkan dari pertanyaan tersebut adalah dengan menggunakan proses tokenization – sebuah proses yang mengubah data sensitif seperti bank atau detail kartu kredit milikmu menjadi rangkaian huruf dan angka yang tidak berarti dan tidak dibaca (token) yang tidak dapat diuraikan dengan mudah.

TokenizationBlog_4A-1416347774322

Hal semacam ini sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Mastercard dan Tappy tentang kemitraan mereka bersama MatchMove -perusahaan teknologi asal Singapura, untuk memasukkan kartu kredit Mastercard yang diberi token ke dalam lini chip NFC milik Tappy sehingga terlihat seolah-olah meningkatkan keamanan datanya.

“Our goal is to rewrite the standards of consumer wearable by producing products that are secure, easy to use and at the same time maintaining the natural aesthetics of the fashion wearable accessories which is critical to end consumers,” kata pihak Mastercard di dalam press release-nya.

Payment Wearables: The Futures of Digital Payment

Meskipun semuanya masih terdengar spekulatif, tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi di dunia. Bagaimana tidak, Amazon pun sanggup kok membuat toko grosir tanpa kasir pertama di dunia.

Semuanya hanya masalah waktu, alat produksi, sistem keamanan, dan peraturan pemerintah dari semua negara. Mudah-mudah konsep seperti ini bisa masuk ke Indonesia cepat dan diterima dengan baik.

Author

Tech Savvy. Voracious reader. Digital Marketer.

Write A Comment